20 June 2026
Senja Kala HMI: Organisasi Besar yang Kehilangan Arah
<p>Himpunan Mahasiswa Islam, yang pernah menjadi kawah candradimuka para pemimpin bangsa, kini tengah menghadapi ujian eksistensi yang paling berat sepanjang sejarahnya.Konflik internal yang menahun, kaderisasi yang stagnan, serta relevansi yang semakin dipertanyakan menjadi tiga luka terbuka yang menggerogoti organisasi kebanggaan mahasiswa Muslim ini dari dalam.Perang saudara yang tak kunjung usai Dualisme kepengurusan telah menjadi wajah buruk yang terus menempel pada HMI. Kongres demi kongres kerap berakhir dengan dua kubu yang sama-sama mengklaim legitimasi, saling menggugat di pengadilan, dan sibuk berebut kantor alih-alih merumuskan program nyata. Energi organisasi habis terkuras untuk urusan internal, bukan untuk kepentingan umat dan bangsa.Seorang mantan Ketua Umum Badko HMI mengakui bahwa perpecahan ini bukan semata soal ideologi, melainkan soal perebutan akses dan fasilitas. "Jabatan di HMI sudah terlanjur dipersepsikan sebagai batu loncatan politik, bukan pengabdian," ujarnya.Generasi Z berpaling Jika dulu kampus-kampus besar di Indonesia dipenuhi rekrutmen HMI yang menggebu, kini komisariat-komisariat banyak yang sepi. Mahasiswa generasi Z lebih memilih bergabung dengan komunitas berbasis minat, gerakan lingkungan hidup, atau startup sosial ketimbang mengikuti forum-forum panjang dan sidang pleno yang melelahkan. Data internal sejumlah cabang HMI menunjukkan penurunan jumlah peserta Latihan Kader I (LK1) hingga 40 persen dalam lima tahun terakhir. Di beberapa cabang kota kecil, LK1 bahkan tidak dapat diselenggarakan karena kekurangan peserta. Intelektualisme yang memudarHMI lahir pada 1947 dengan visi mempertemukan Islam dan modernitas. Tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madjid membawa tradisi pemikiran kritis yang mempengaruhi wacana keislaman nasional. Namun tradisi itu kini nyaris hilang. Forum-forum diskusi buku, halaqah pemikiran, dan penerbitan jurnal yang dulu menjadi ciri khas HMI kini tergantikan oleh seremoni pelantikan yang mewah dan konsolidasi politik menjelang pemilu. Kader tidak lagi dididik untuk menjadi pemikir, melainkan dipersiapkan sebagai operator jaringan. Masih adakah jalan kembali? Sejumlah alumni senior meyakini HMI masih bisa bangkit asalkan berani melakukan reformasi fundamental: menghapus tradisi politik praktis dalam tubuh organisasi, mengembalikan kaderisasi ke akar intelektualisme, dan membuka diri pada isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, kecerdasan buatan, dan keadilan ekonomi digital. Namun langkah itu membutuhkan keberanian yang justru semakin langka di antara mereka yang kini mengendalikan roda organisasi. Selama jabatan masih dipandang lebih berharga daripada gagasan, kemunduran HMI akan terus berlanjut — dan sejarah panjangnya hanya akan menjadi kenangan.</p>
<p>oleh: lutfi ardiansyah ketua cabang HMI jombang periode 2007-2008</p>